download.png
HeadlineKesehatanPangkalpinangPolitik

Tolak Rencana Pinjaman Rp293 Miliar untuk Bangun RS Jantung, Ketua Presidium: Belum Mendesak Kenapa Dipaksakan?

×

Tolak Rencana Pinjaman Rp293 Miliar untuk Bangun RS Jantung, Ketua Presidium: Belum Mendesak Kenapa Dipaksakan?

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG, infoupdate.co – Rencana Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) meminjam dana sebesar Rp293,3 miliar kepada Bank Sumsel Babel untuk membangun Rumah Sakit (RS) Jantung dan Stroke kembali menuai sorotan.

‎Ketua Presidium Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) sekaligus Anggota Komisi I DPRD Babel, Muhtar Motong, menilai pembangunan rumah sakit khusus tersebut belum menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Babel.

‎Bahkan, ia mengaku telah menyampaikan penolakannya sejak sekitar setahun lalu ketika wacana itu pertama kali muncul.
‎Menurutnya, penolakan tersebut bukan didasari kepentingan tertentu, melainkan pertimbangan objektif berdasarkan kondisi daerah, jumlah penduduk, hingga kesiapan fasilitas kesehatan yang sudah ada.

‎”Saya sudah menyampaikan sejak setahun lalu bahwa pembangunan rumah sakit jantung khusus ini belum tepat. Jadi ketika sekarang kembali ditanyakan, sikap saya tetap sama. Ini bukan soal tendensius, tapi berdasarkan pertimbangan yang sehat,” ujarnya, Rabu (29/07/2026).

‎Muhtar menilai, dengan jumlah penduduk Bangka Belitung yang relatif kecil, kebutuhan terhadap rumah sakit khusus jantung dinilai belum signifikan. Selain itu, layanan penanganan penyakit jantung juga disebut sudah tersedia di RSUP Dr. (Ir.) Soekarno Babel.

‎”Setahu saya di RSUP sudah ada layanan jantung, bahkan informasi yang saya dapat tindakan kateterisasi atau pemasangan ring juga sudah bisa dilakukan. Jadi kenapa harus membangun rumah sakit yang khusus?” katanya.

‎Ia juga mengutip pandangan anggota Komisi IV DPRD Babel yang sebelumnya menyampaikan hasil konsultasi ke Kementerian Kesehatan, bahwa pembangunan rumah sakit jantung khusus di Babel dinilai belum menjadi prioritas.

‎Karena itu, ia mempertanyakan alasan pemerintah tetap memaksakan proyek tersebut hingga harus mengajukan pinjaman ratusan miliar rupiah.

‎”Kalau sampai harus meminjam uang ke Bank Sumsel Babel, yang membayar nanti tetap masyarakat Bangka Belitung. Ini harus dipikirkan secara serius,” tegas Muhtar.

‎Disamping itu, ia menilai kondisi keuangan daerah saat ini justru membutuhkan kehati-hatian dalam menentukan skala prioritas pembangunan. Di tengah keterbatasan PAD dan kebijakan efisiensi anggaran yang sedang dijalankan pemerintah, pembangunan rumah sakit khusus dinilai belum memiliki urgensi yang kuat.

‎”Bayangkan, Rp293 miliar itu baru untuk fisiknya saja. Belum biaya pengadaan alat, operasional, pemeliharaan, hingga kebutuhan tenaga medis. Sementara rumah sakit yang ada saja masih menghadapi berbagai keterbatasan,” ujarnya.

‎Ia mencontohkan, di tingkat nasional pun rumah sakit yang benar-benar khusus menangani penyakit jantung tidak banyak. Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta, kata dia, merupakan rumah sakit rujukan nasional sehingga memiliki cakupan pelayanan yang berbeda dengan kebutuhan di Bangka Belitung.

‎Ia pun berharap DPRD Babel bersikap objektif dalam menyikapi rencana pinjaman tersebut dan tidak hanya mempertimbangkan aspek politik semata.

‎”Saya berharap teman-teman di DPR berpikir secara objektif. Layak atau tidak, itu yang harus dilihat. Jangan hanya karena sudah masuk RPJMD lalu semuanya dianggap harus dijalankan. RPJMD itu tetap bisa dievaluasi sesuai kebutuhan daerah,” katanya.

‎Menutup pernyataannya, ia mengaku prihatin apabila rencana tersebut tetap dipaksakan tanpa mempertimbangkan kondisi riil daerah.

‎”Kalau ini tetap dipaksakan, saya melihat ini menjadi keprihatinan besar. Kita harus benar-benar mempertimbangkan apakah pembangunan rumah sakit khusus ini memang sudah menjadi kebutuhan yang paling mendesak bagi masyarakat Bangka Belitung,” pungkas Muhtar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *