Ekonomi & BisnisHeadlinePangkalpinang

Krisis BBM di Bangka, Ketua Komisi XII DPR RI Desak Pertamina Bertindak Cepat

×

Krisis BBM di Bangka, Ketua Komisi XII DPR RI Desak Pertamina Bertindak Cepat

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG, infoupdate.co – Pulau Bangka kembali diguncang krisis bahan bakar minyak (BBM). Sejak awal pekan, kelangkaan Pertalite dan Pertamax membuat antrean kendaraan mengular di hampir seluruh SPBU. Kemacetan panjang pun tak terhindarkan, sementara aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu.

Menanggapi kondisi ini, Ketua Komisi XII DPR RI, DR Bambang Patijaya SE, MM, angkat bicara. Legislator asal Dapil Bangka Belitung itu meminta Pertamina segera mengambil langkah cepat agar krisis tidak berujung pada panic buying.

“Pertamina harus segera tanggap selesaikan, jangan sampai mengarah pada panic buying,” ujar Bambang Patijaya.

Dikatakan Bambang Patijaya, dari informasi yang ia terima, BBM jenis Pertamax yang memang berkurang.

“Dari laporan yang saya terima, memang stok Pertamax agak kosong. Namun malam ini pasokan sudah tiba di Pangkalbalam. Mudah-mudahan besok bisa segera didistribusikan,” ujar Bambang Patijaya.

Antrean Panjang Sejak Subuh

Sejak dini hari, antrean kendaraan di SPBU Pangkalpinang sudah mengular. Banyak pengendara hanya bisa mengisi setengah tangki setelah menunggu berjam-jam. “Kalau datang jam enam pagi sudah telat. Kadang pas sampai depan, BBM habis,” keluh Dani, warga Pangkalpinang.

Situasi serupa terjadi di Sungailiat, Bangka Tengah, hingga Bangka Selatan. Pertamax yang biasanya tersedia kini ikut kosong, memaksa SPBU menutup dispenser. Warga menyebut krisis kali ini sebagai yang terparah dalam beberapa bulan terakhir.

Dampak Ekonomi Kian Terasa

Kelangkaan BBM tak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga memukul ekonomi rakyat. Sopir travel, ojek, hingga pedagang keliling kehilangan waktu produktif. “Seharusnya bisa kerja satu hari penuh, ini habis setengah hari buat antre,” kata Ridho, sopir travel.

Harapan Warga

Masyarakat berharap distribusi BBM segera normal agar aktivitas kembali lancar. Pertamina diminta lebih sigap dalam mengantisipasi lonjakan kebutuhan, terutama di daerah kepulauan yang sangat bergantung pada pasokan reguler.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *