PANGKALPINANG, infoupdate.co– Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Muhtar Mutong, melontarkan kritik pedas kepada Gubernur Babel, Hidayat Arsani, terkait wacana penutupan operasional Jembatan Emas. Minggu,(4/5)
Dalam pernyataannya, Mochtar mempertanyakan dasar pemikiran gubernur yang dinilainya hanya fokus pada aspek biaya operasional semata.
“Gubernur ini pernah nggak berpikir?” ujar H Tare dengan nada bertanya, belum lama ini.
“Beliau hanya melihat dari segi kos yang dikeluarkan, anggaran yang dikeluarkan besar, gitu kan. Tapi tanpa pernah melihat secara keseluruhan,” cetusnya
Menurut H Tare, idealnya seorang kepala daerah melakukan kajian yang komprehensif sebelum mengambil keputusan strategis, apalagi terkait aset publik yang memiliki nilai sejarah dan potensi ekonomi. Kajian komprehensif tersebut, lanjutnya, memerlukan penelitian dan studi kelayakan yang mendalam.
“Karena dia (Jembatan Emas) lahir pasti ada kajiannya juga, pasti ada penelitiannya juga. Jadi kalau mau ditutup juga harus lakukan penelitian. Lakukan studi-studi kelayakan lagi. Seperti apa? Layak nggak itu?” tegasnya.
Politisi ini mengingatkan bahwa pembangunan Jembatan Emas pada masa kepemimpinan Gubernur Eko Maulana Ali (periode 2009-an) pasti memiliki dasar-dasar yang kuat. Ia menyayangkan jika keputusan penutupan hanya didasarkan pada pertimbangan penghematan biaya operasional tahunan yang disebut mencapai Rp 1,8 miliar.
“Jangan hanya melihat dari 1,8 miliar untuk operasional tahunan Perhubungan. Buka tutup 18 juta, buka turun 18. Jangan di situ,” sindirnya.
H Tare kemudian mengulas sejarah pembangunan Jembatan Emas, yang menurutnya memiliki visi untuk mengembangkan potensi pariwisata di wilayah timur Bangka. Jembatan tersebut diharapkan menjadi jalur penghubung ke berbagai destinasi wisata menarik seperti Pantai Rebo, Pantai Pesona, dan Tongaci.
Lebih lanjut, Mochtar menyoroti keunikan Jembatan Emas sebagai ikon Bangka Belitung, yang memiliki sistem buka tutup satu-satunya di Indonesia. Ia juga menyebutkan bahwa teknologi jembatan tersebut berasal dari Inggris dan hanya dimiliki oleh enam negara di dunia.
“Apa tidak menjadi kebanggaan? Itu kan yang dibilang ikonik,” tandasnya.
Menyikapi potensi penghentian operasional di tengah alokasi anggaran yang sudah berjalan, Mochtar mempertanyakan langkah yang lebih tepat.
“Jadi lebih tepatnya ini kita minta diaksesalkan lagi atau tahun depan aja dihentikan? Kalau itu gampang, sebenarnya gampang. Tapi pernah gak berpikir?” tukasnya sembari menekankan kembali pentingnya kajian mendalam sebelum mengambil keputusan terkait Jembatan Emas. (*)













