PANGKALPINANG, infoupdate.co– Pemerintah Kota Pangkalpinang mendorong pengembangan Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan keluarga.
Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, mengatakan pengembangan KWT perlu diperluas agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di seluruh kelurahan.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri panen sawi batang putih oleh KWT Pandan Sari di Gedung Nasional, Kecamatan Taman Sari, Pangkalpinang, Sabtu (24/10/2026).
Dessy menyebutkan, saat ini terdapat 23 KWT yang telah berjalan di Pangkalpinang. Pemerintah kota berharap jumlah tersebut terus bertambah hingga setiap kelurahan memiliki setidaknya satu kelompok wanita tani.
“Ini ada 23 KWT. Kita berharap di setiap kelurahan nanti ada satu KWT, sehingga bisa menjadi 42 KWT, bahkan lebih,” kata Dessy.
Menurut dia, kegiatan budidaya sayuran yang dikelola kelompok perempuan memiliki potensi ekonomi apabila dilakukan secara konsisten. Hasil panen tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga dipasarkan untuk menghasilkan pendapatan tambahan.
Karena itu, Dessy mendorong para anggota KWT terus berinovasi dan meningkatkan produktivitas. Ia juga meminta Dinas Pangan dan Pertanian memberikan perhatian terhadap kebutuhan kelompok, termasuk dukungan bibit dan pemeliharaan sarana budidaya.
“Pemerintah kota sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan positif seperti ini. Kalau ada masalah, ibu-ibu bisa menyampaikannya kepada kepala dinas agar dapat ditindaklanjuti,” ujarnya.
Di sisi lain, pengembangan KWT di Pangkalpinang mulai menunjukkan kemandirian. Sejumlah kelompok telah mampu menjual hasil panen dan memanfaatkan pendapatan tersebut untuk membeli bibit baru, sehingga kegiatan pertanian dapat terus berjalan.
Namun, keberlanjutan program masih menghadapi tantangan. Sebagian KWT dilaporkan tidak aktif akibat kerusakan fasilitas budidaya, termasuk modul dan atap yang menghambat kegiatan penanaman.
Sebagai gambaran, pembangunan satu modul KWT sekitar tiga tahun lalu membutuhkan anggaran sekitar Rp20 juta, termasuk bibit. Umumnya, setiap kelompok memiliki satu modul sebagai sarana budidaya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan KWT tidak cukup hanya melalui pembentukan kelompok dan penyediaan fasilitas awal. Pemeliharaan sarana, pendampingan, serta dukungan berkelanjutan diperlukan agar kelompok tetap produktif dan mampu mempertahankan kemandiriannya.
Dessy menilai peran perempuan dalam pembangunan masyarakat juga sangat strategis. Selain menjalankan kegiatan pertanian, para perempuan aktif dalam berbagai program kemasyarakatan, seperti PKK, Posyandu, PAUD, pemanfaatan tanaman obat keluarga, dan kegiatan keagamaan.
Ia berharap KWT terus berkembang menjadi kelompok produktif yang mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
“Terus semangat dan teruslah berbuat. Mudah-mudahan kegiatan ini memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat, menjadi sumber penghasilan bagi ibu-ibu, dan membawa kebaikan bagi Kota Pangkalpinang,” tuturnya.(*)
















